Kalimat Dasar


Dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kita harus ketahui yaitu unsur-unsur yang ada untuk membuat suatu kalimat yang biasanya dipakai dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Indonesia biasanya digunakan aturan SPO atau SPOK (Subjek, Predikat, Objek atau Subjek, Predikat, Objek, Keterangan).
  • Unsur-Unsur Kalimat
Unsur-unsur kalimat :
- Subjek : merupakan jawaban atas pertanyaan apa dan siapa kepada predikat. Contoh : Aiba memelihara kucing. Maka pertanyaan “Siapa memelihara?” Adalah Aiba.


- Predikat
o Menimbulkan pertanyaan apa dan siapa
o Dapat berupa kata “adalah” atau “ialah”
o Dapat disertai kata aspek (seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan) pada kalimat verba atau adjectiva dan modalitas (seperti ingin, hendak, dan mau) untuk menyatakan keinginan pelaku.

- Objek : Untuk predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-.

- Pelengkap : Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.

- Keterangan : Unsur kalimat yang dapat diubah-ubah posisinya. Jika dari jabatan SPOK menjadi KSPO dan SKPO .Jika tidak dapat di pindah maka bukan keterangan.

Dalam suatu kalimat yang biasa digunakan terdapat pola-pola kalimat dapat dikembalikan ke dalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan perkataan lain, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja. Kalimat dasar tersebut dapat berupa:
- Kalimat dasar berpola SP
Terdiri dari subjek dan predikat. Predikat dapat berupa:
o kata kerja (Ohno(S) sedang memancing(P))
o kata benda (Ayahnya(S) juru masak(P))
o kata sifat (Ohno(S) baik hati(P))
o kata bilangan (Personil Arashi(S) 5 orang(P))

- Kalimat dasar berpola SPO
Mempunyai unsur Subjek, Predikat, dan Objek. Contoh : Mereka(S) sedang menyelenggarakan(P) konser(O).

- Kalimat dasar berpola SP Pel.
Mempunyai unsur Subjek, Predikat, dan Pelengkap. Contoh : Nino(S) berpakaian(P) rapi(Pel).

- Kalimat dasar berpola SPO Pel.
Terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Pelengkap. Contoh : Ohno(S) membelikan(P) Nino(O) topi(Pel).

- Kalimat dasar berpola SPK
Terdiri dari Subjek, Predikat, dan Keterangan. Contoh : Aiba(S) berasal dari(P) Chiba(K).

- Kalimat dasar berpola SPOK
Terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Contoh : Mereka(S) makan(P) sawo(O) saat festival(K).

  • Pola Kalimat
Pola-pola kalimat tersebut juga dapat disusun berdasarkan kata kerja (KK), kata sifat (KS), kata benda (KB) dan kata bilangan (KBil). Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

1. KB + KK --> Mereka bernyanyi.
2. KB + KS --> Aiba dermawan.
3. KB + KBil --> Harga album terbaru Arashi delapan ratus ribu.
4. KB + (KD + KB) --> Tinggalnya di Jambi.
5. KB1 + KK + KB2 --> Mereka menonton konser.
6. KB1 + KK + KB2 + KB3 --> Paman mencarikan saya pekerjaan.
7. KB1 + KB2 --> Ohno penyiar.

Ketujuh pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.
»»  Baca Selengkapnya...

kata Ulang atau Reduplikasi


  • Kata ulang (reduplikasi) adalah bentuk dasar yang diulang


  • Bentuk dasar adalah suatu bentuk linguistik yang dijadikan dasar pembentukan kata ulang (bentuk yang lebih besar/bentuk kata sebelum dijadikan kata ulang)


  • Prinsip-prinsip pengulangan :
    1. Pengulangan tidak mengubah golongan (kelas) kata, dari bentuk kata ulang, seperti kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Contoh :
      • Kata benda : Sepatu-sepatu (sepatu), bungkusan-bungkusan (bungkusan), buah-buahan (buah)
      • Kata kerja : Berkejar-kejaran (berkejaran), mencabut-cabuti (mencabuti), tertegun-tegun (tertegun)
      • Kata sifat : Bagus-bagus (bagus), nakal-nakal (nakal), seburuk-buruknya (buruk), keputih-putihan (putih)
    2. Bentuk dasar selalu berupa bentuk yang terdapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Contoh :
      • Memperbincang-bincangkan : bentuk dasarnya memperbincangkan, bukan memperbincang
      • Bersalam-salaman : bentuk dasarnya bersalaman, bukan bersalam
      • Rumah-rumahan : bentuk dasarnya rumah, bukan rumahan


  • Berdasarkan jenisnya, kata ulang terbagi menjadi 4 jenis :
    1. Pengulangan utuh/murni/dwilingga : Pengulangan seluruh kata dasar. Co : Ibu-ibu (ibu), lampu-lampu (lampu), pertokoan-pertokoan (pertokoan)
    2. Pengulangan sebagian/dwipura/suku awal: Bentuk pengulangan suku pertama kata dasarnya, biasanya disertai variasi e pepet. Co : Laki-laki-lalaki-lelaki, bercaci-cacian (bercacian), menendang-nendang (menendang), minum-minuman (minuman), tunjuk-menunjuk (menunjuk)
    3. Pengulangan berimbuhan : Bentuk pengulangan kata dengan mendapat awalan, sisipan, akhiran atau gabungan imbuhan sebelum/sesudah kata dasarnya diulang. Co : Mobil-mobilan (mobil), sebesar-besarnya (besar), kemerah-merahan (merah)
    4. Pengulangan berubah bunyi : Co : Warna-warni (warna), sayur-mayur (sayur), bolak-balik (balik), kerlap-kerlip (kerlip)


  • Makna yang dimunculkan oleh kata ulang :
    1. Menyatakan banyak Pemain-pemain bola itu berlatih dengan giat
    2. Menyatakan bermacam-macam : Para atlet dianjurkan memakan sayur-sayuransegar
    3. Menyatakan saling : Setelah pertandingan berakhir, mereka berpeluk-pelukan
    4. Menyatakan perbuatan yang dilakukan hanya untuk kesenangan : Merekaduduk-duduk di bawah pohon sambil menceritakan pengalaman masing-masing
    5. Menyatakan menyerupai : Dia membelikan raket-raketan untuk adiknya yang berusia 3 tahun
    6. Menyatakan agak : Ia menyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan sewaktu menerima pujian atas prestasi yang diperolehnya
    7. Menyatakan melakukan pekerjaan yang berulang-ulang : Ia melempar-lemparbola basket itu kepada pemain sebagai pemanasan
    8. Menyatakan kolektif : Mereka memasuki lapangan dua-dua orang untuk melakukan contoh tendangan bola yang baru diajarkan pelatih
    9. Menyatakan memiliki sifat : Bicaranya keibu-ibuan sehingga aku merasa lebih cepat mengerti
    10. Menyatakan sangat Cepat-cepat ditendangnya bola ke arah gawang lawan
    11. Menyatakan tingkat yang paling tinggi (superlatif) : Ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai garis finis
»»  Baca Selengkapnya...

Puisi Lama

Puisi Lama

  • Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
    1. Jumlah kata dalam 1 baris
    2. Jumlah baris dalam 1 bait
    3. Persajakan (rima)
    4. Banyak suku kata tiap baris
    5. Irama
  • Ciri-ciri Puisi Lama :
    1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
    2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
    3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
  • Jenis Puisi Lama. Yang termasuk puisi lama adalah :
    1. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib
    2. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
    3. Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek
    4. Seloka adalah pantun berkait
    5. Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat
    6. Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita
    7. Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 bari
  • Ciri-ciri dari jenis puisi lama :
    1. Mantra :
      • Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.
      • Bersifat lisan, sakti atau magis
      • Adanya perulangan
      • Metafora merupakan unsur penting
      • Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
      • Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
    2. Pantun :
      • Setiap bait terdiri 4 baris
      • Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
      • Baris 3 dan 4 merupakan isi
      • Bersajak a – b – a – b
      • Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
      • Berasal dari Melayu (Indonesia)
    3. Karmina :
      • Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
      • Bersajak aa-aa, aa-bb
      • Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
      • Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
      • Semua baris diawali huruf capital.
      • Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
      • Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
    4. Seloka :
      • Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
      • Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
    5. Gurindam :
      • Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian
      • baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
    6. Syair :
      • Terdiri dari 4 baris
      • Berirama aaaa
      • Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair
    7. Talibun :
      • Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
      • Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
      • Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
      • Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
      • Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

  • Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama :
    1. Mantra :
      • Assalammu’alaikum putri satulung besar
        Yang beralun berilir simayang
        Mari kecil, kemari
        Aku menyanggul rambutmu
        Aku membawa sadap gading
        Akan membasuh mukamu
    2. Pantun :
      • Kalau ada jarum patah
        Jangan dimasukkan ke dalam peti
        Kalau ada kataku yang salah
        Jangan dimasukan ke dalam hati
    3. Karmina :
      • Dahulu parang, sekarang besi (a)
        Dahulu sayang sekarang benci (a)
    4. Seloka :
      • Lurus jalan ke Payakumbuh,
        Kayu jati bertimbal jalan
        Di mana hati tak kan rusuh,
        Ibu mati bapak berjalan
    5. Gurindam :
      • Kurang pikir kurang siasat (a)
        Tentu dirimu akan tersesat (a)
        Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
        Bagai rumah tiada bertiang ( b )
        Jika suami tiada berhati lurus ( c )
        Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
    6. Syair :
      • Pada zaman dahulu kala (a)
        Tersebutlah sebuah cerita (a)
        Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
        Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
    7. Talibun :
      • Kalau anak pergi ke pekan
        Yu beli belanak pun beli sampiran
        Ikan panjang beli dahulu


      • Kalau anak pergi berjalan
        Ibu cari sanak pun cari isi
        Induk semang cari dahulu
sumber
»»  Baca Selengkapnya...

Puisi Baru


  • Puisi baru memiliki bentuk yang lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
  • Ciri-ciri Puisi Baru :
    1. Bentuknya rapi, simetris
    2. Mempunyai persajakan akhir (yang teratur)
    3. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain
    4. Sebagian besar puisi empat seuntai
    5. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
    6. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata


  • Jenis-jenis Puisi Baru :
    1. Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
      • Balada adalah puisi berisi kisah/cerita
      • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
      • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
      • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
      • Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
      • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
      • Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik
    2. Menurut bentuknya, puisi dibedakan atas :
      • Distikon
      • Terzina
      • Quatrain
      • Quint
      • Sektet
      • Septime
      • Oktaf/Stanza
      • Soneta


  • Contoh jenis puisi menurut isinya :
    a) BALADA
    Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”
    b) HYMNE
    Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
    Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
    Menggeliat derita pada lekuk dan liku
    bawah sayatan khianat dan dusta.
    Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
    menitikkan darah dari tangan dan kaki
    dari mahkota duri dan membulan paku
    Yang dikarati oleh dosa manusia.
    Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
    dunia kehilangan sumber kasih
    Besarlah mereka yang dalam nestapa
    mengenal-Mu tersalib di datam hati.
    c) ODE
    Generasi Sekarang
    Di atas puncak gunung fantasi
    Berdiri aku, dan dari sana
    Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
    Generasi sekarang di panjang masa
    Menciptakan kemegahan baru
    Pantoen keindahan Indonesia
    Yang jadi kenang-kenangan
    Pada zaman dalam dunia
    (Asmara Hadi)
    d) EPIGRAM
    Hari ini tak ada tempat berdiri
    Sikap lamban berarti mati
    Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
    Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
    (Iqbal)
     e) ELEGI
    Senja di Pelabuhan Kecil
    Ini kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
    menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
    dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
    (Chairil Anwar)
    f) SATIRE
    Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku
    membentur jidad penyair-penyair salon,
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
    sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
    dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
    (Rendra)



  • Contoh jenis puisi dari bentuknya :
    a) DISTIKON
    Contoh :
    Berkali kita gagal
    Ulangi lagi dan cari akal
    Berkali-kali kita jatuh
    Kembali berdiri jangan mengeluh
    (Or. Mandank)
    b) TERZINA
    Contoh :
    Dalam ribaan bahagia datang
    Tersenyum bagai kencana
    Mengharum bagai cendana
    Dalam bah’gia cinta tiba melayang
    Bersinar bagai matahari
    Mewarna bagaikan sari
    Dari ; Madah Kelana
    Karya : Sanusi Pane
    c) QUATRAIN
    Contoh :
    Mendatang-datang jua
    Kenangan masa lampau
    Menghilang muncul jua
    Yang dulu sinau silau
    Membayang rupa jua
    Adi kanda lama lalu
    Membuat hati jua
    Layu lipu rindu-sendu
    (A.M. Daeng Myala)
    d) QUINT
    Contoh :
    Hanya Kepada Tuan
    Satu-satu perasaan
    Hanya dapat saya katakan
    Kepada tuan
    Yang pernah merasakan
    Satu-satu kegelisahan
    Yang saya serahkan
    Hanya dapat saya kisahkan
    Kepada tuan
    Yang pernah diresah gelisahkan
    Satu-satu kenyataan
    Yang bisa dirasakan
    Hanya dapat saya nyatakan
    Kepada tuan
    Yang enggan menerima kenyataan
    (Or. Mandank)
    e) SEXTET
    Contoh :
    Merindu Bagia
    Jika hari’lah tengah malam
    Angin berhenti dari bernafas
    Sukma jiwaku rasa tenggelam
    Dalam laut tidak terwatas
    Menangis hati diiris sedih
    (Ipih)
    f) SEPTIMA
    Contoh :
    Indonesia Tumpah Darahku
    Duduk di pantai tanah yang permai
    Tempat gelombang pecah berderai
    Berbuih putih di pasir terderai
    Tampaklah pulau di lautan hijau
    Gunung gemunung bagus rupanya
    Ditimpah air mulia tampaknya
    Tumpah darahku Indonesia namanya
    (Muhammad Yamin)
    g) STANZA ( OCTAV )
    Contoh :
    Awan
    Awan datang melayang perlahan
    Serasa bermimpi, serasa berangan
    Bertambah lama, lupa di diri
    Bertambah halus akhirnya seri
    Dan bentuk menjadi hilang
    Dalam langit biru gemilang
    Demikian jiwaku lenyap sekarang
    Dalam kehidupan teguh tenang
    (Sanusi Pane)
    h) SONETA
    Contoh :
    Gembala
    Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
    Melihat anak berelagu dendang ( b )
    Seorang saja di tengah padang ( b )
    Tiada berbaju buka kepala ( a )
    Beginilah nasib anak gembala ( a )
    Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
    Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
    Pulang ke rumah di senja kala ( a )
    Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
    Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
    Melagukan alam nan molek permai ( a )
    Wahai gembala di segara hijau ( c )
    Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
    Maulah aku menurutkan dikau ( c )
    (Muhammad Yamin)

»»  Baca Selengkapnya...

Membaca Cepat


  • Tujuan membaca :
    1. Memberi kesenangan
    2. Membantu memecahkan masalah penelitian
    3. Meningkatkan pengetahuan
    4. Mendapatkan informasi penting
  • Materi bacaan :
    1. Untuk kesenangan : Novel, cerpen, buku populer, surat sahabat
    2. Untuk penelitian : Buku, ensiklopedia, artikel, jurnal
    3. Untuk pengetahuan : Majalah, surat kabar, buku
    4. Untuk informasi : Peta, resep, kamus, buletin, iklan, direktori telefon
  • Membaca cepat :
    1. Mendapatkan materi teks secara umum
    2. Memisahkan materi relevan dengan yang tidak relevan
    3. Mengetahui ide/tema bacaan
    4. Keuntungan : Dapat melahap banyak teks
    5. Kerugian : Informasi tidak optimal
  • Membaca cermat :
    1. Mendapatkan pemahaman materi teks secara detail
    2. Mempertahankan konsentrasi
    3. Mengingat dengan jelas apa yang dibaca
    4. Mengikuti dengan langkah-langkah/aturan secara cermat
    5. Memahama ide/istilah sulit
    6. Menyita waktu untuk 1 bacaan
  • Previewing :
    1. Previewing adalah teknik membaca untuk mendapatkan gambaran teks secara umum
    2. Hasil pengamatan Mikulecky dan Jeffries (1996), dengan preview proses pemahaman informasi dapat dicapai dengan cepat, bahkan bisa membantu pembaca mengikuti gagasan penulisnya
    3. Hasil preview adalah mengetahui Judul, Penulis, interpretasi Jenis atau Genre Bacaan, prediksi tentang isi tulisan
  • Bagian-Bagian yang Dipreview :
    1. Penulis: ……………………………………….
    2. Tahun terbit:………..Jumlah Hal:…………..
    3. Pendahuluan atau Pengantar:………………
    4. Jumlah Bab:…………………………………..
    5. ____Daftar Isi:…………………………………
    6. ____Simpulan:………………………………..
    7. ____Lampiran:…………………………………
    8. ____indeks:……………………………………
    9. ____Bibliografi atau Daftar Pustaka:……….
    10. ____Tabel, Grafik, Bagan:…………………..
  • Scanning :
    1. Scanning adalah teknik baca cepat untuk mencari informasi yang Anda diinginkan. Anda mencari ide atau kata kunci saja.
    2. Seringkali anda sudah tahu apa yang anda kehendaki sehingga pikiran Anda terfokus pada penemuan jawaban.
    3. Scanning menggerakkan mata dengan cepat di setiap lembar halaman. Scanning akan menjawab apakah sumber bacaan ini relevan dengan kepentingan anda
    4. Ketika menyecan, lihatlah tata tulis yang digunakan seperti, penomoran, abjad, langkah-langkah seperti satu, dua, dst, kata-kata yang tercetak tebal, miring, atau ukuran huruf yang berbeda, gaya cetak atau warna. Seringkali Penulis akan menempatkan ide pokoknya dengan cara ini.
    5. Jika Anda membaca buku standar, gunakan indeks untuk menemukan ide atau kata kunci.
  • Skimming :
    1. Skimming adalah teknik baca cepat untuk mengidentifikasi ide pokok sebuah teks. Anda tidak perlu membaca kata per kata seperti baca normal. Kecepatan baca anda 3 sampai 4 kali lebih cepat dari biasa. Orang akan menggunakan teknik ini jika begitu banyaknya bacaan yang harus dibaca dengan waktu yang terbatas. Gunakan skimming untuk melihat apakah teks tersebut sebidang dengan penelitian anda
    2. Langkah-langkah skimming, awalnya sama dengan previewing yaitu baca cepat judul, subjudul, lalu baca kalimat pertama atau terakhir setiap paragraf karena biasanya ide pokok ada pada posisi itu
    3. Ingat bahwa anda menggunakan skimming untuk mencari informasi khusus bukan pemahaman secara menyeluruh. Ide pokok juga akan tergambar pada fakta yang diberikan pada tabel, grafik atau bagan.
  • Tujuan hubungan dengan tehnik membaca cepat :
    1. Kesenangan : Previewing, scanning, skimming -> membaca cermat
    2. Penelitian : Previewing, scanning, skimming -> sortir bahan : membaca cermat
    3. Pengetahuan : Previewing, scanning, skimming -> membaca cermat
    4. Informasi : Previewing, scanning, skimming -> selesai
  • Tips Membaca Lebih Cepat
    Phillips, Ann Dye and Peter Elias Sotiriou. Steps to Reading Proficiency. 3rd Edition.
    Belmont, California: Wadsworth, 1992.
    1. Tinggalkan cara mebaca dengan lisan (100-300 wpm), lakukanlah dengan hati (> 800 wpm)
    2. Gunakan pengetahuan bahasa Indonesia Anda, seperti pola kalimat, logika berpikir, kata perangkai kalimat, dan kata kunci (keywords), sebaliknya hindari kata-kata tugas karena tidak penting untuk pemahaman. Cara ini menghemat 10-50 % kata-kata yang tidak penting
    3. Gunakan gerakan mata, bukan gerakan kepala secara efektif untuk menghemat waktu beberapa detik lagi
    4. Terapkan pengetahuan membaca yang Anda dapat, pertama previewing, scanning, dan skimming
    5. Biasakan diri dengan deadline waktu. Adanya tekanan waktu (time pressure) akan membantu Anda untuk lebih konsentrasi pada materi bacaan
    6. Jika kelima Tips di atas tidak berhasil membantu Anda secara drastis, mulailah memacu tingkat pembacaan Anda dengan mengunakan alat. Gunakan jari anda dengan cara memindahkan dari kiri ke kanan secara cepat per baris. Cara ini efektif kalau Anda ingin menghendaki per baris, jika tidak langkaui dari atas ke bawah menurut keyword atau kalimat topik. Cara ini umumnya menaikkan kecepatan baca hingga 400-800 wpm.
    7. Jika Anda puas, cara terbaik membaca adalah dengan mata dan otak (konsentrasi), bukan dengan lisan (bicara), gerakan kepala, atau memakai jari. Slogan yang perlu diingat: "Bacalah ide pada teks, bukan kata-kata."
»»  Baca Selengkapnya...

Ruang Dimensi Tiga

Kedudukan Titik, Garis, dan Bidang Dalam Ruang
  1. Titik
  2. Sebuah hanya dapat ditentukan oleh letaknya, tetapi tidak memiliki ukuran (besaran) sehingga dapat dikatakan titik tidak berdimensi. Sebuah titik dilukiskan dengan tanda noktah dan diberi huruf kapital..
  3. Garis
  4. Garis hanya mempunyai ukuran panjang tetapi tidak mempunyai ukuran lebar. Garis merupakan himpunan titik - titik yang hanya memiliki ukuran panjang, sehingga dikatakan garis berdimensi satu..
  5. Bidang
  6. Bidang merupakan himpunan titik - titik yang memiliki ukuran panjang dan luas, sehingga dapat dikatakan bidang berdimensi dua..
  7. Aksioma Garis dan Bidang
  8. Aksioma/postulat adalah pernyataan yang diandaikan benar dalam sebuah sistem dan kebenaran itu diterima tanpa pembuktian..
    1. Melalui sebuah titik sebarang yang tidak berimpit hanya dapat dibuat sebuah garis lurus
    2. Jika sebuah garis dan sebuah bidang memiliki dua titik persekutuan, maka garis itu seluruhnya terletak pada bidang
    3. Melalui tiga buah titik sebarang tidak segaris hanya dapat dibuat sebuah bidang
    Berdasarkan aksioma - aksioma ini dapat diturunkan dalil - dalil untuk menentukan sebuah bidang :
    1. Sebuah bidang ditentukan oleh tiga titik sebarang yang tidak segaris
    2. Sebuah bidang ditentukan oleh sebuah garis dan sebuah titik (titik terletak di luar garis)
    3. Sebuah bidang ditentukan oleh dua buah garis berpotongan
    4. Sebuah bidang ditentukan oleh dua buah garis sejajar
    5. kedudukan titik, garis, dan bidang
Kedudukan Titik Terhadap Garis dan Titik Terhadap Bidang

  1. Titik Terletak pada Garis
  2. Sebuah titik dikatakan terletak pada garis, jika titik tersebut dapat dilalui oleh garis
  3. Titik di Luar Garis
  4. Sebuah titik dikatakan berada di luar garis, jika titik tersebut tidak dapat dilalui oleh garis
  5. Titik Terletak pada Bidang
  6. Sebuah titik dikatakan terletak pada bidang α, jika titik tersebut dapat dilalui oleh bidang α
  7. Titik di Luar Bidang
  8. Sebuah titik dikatakan berada di luar bidang α, jika titik tersebut tidak dapat dilalui oleh bidang α
Kedudukan Garis Terhadap Garis Lain

  1. Dua Garis Berpotongan
  2. Dua buah garis dikatakan berpotongan, jika kedua garis itu terletak pada sebuah bidang dan memiliki sebuah titik persekutuan. Titik persekutuan ini disebut titik potong. Jika dua buah garis berpotongan pada lebih dari satu titik potong, maka kedua garis ini dikatakan berimpit
  3. Dua Garis Sejajar
  4. Dua buah garis dikatakan sejajar, jika kedua garis itu terletak pada sebuah bidang dan tidak memiliki satupun titik persekutuan
  5. Dua garis bersilangan
  6. Dua buah garis dikatakan bersilangan (tidak berpotongan dan tidak sejajar) jika kedua garis itu tidak terletak pada sebuah bidang.
    kedudukan garis terhadap garis lain
  7. Aksioma Dua Garis Sejajar
  8. Melalui sebuah titik yang berada di luar sebuah garis tertentu hanya dapat dibuat sebuah garis yang sejajar dengan garis tertentu.
    Dalil tentang dua garis sejajar :
    1. Jika garis a sejajar dengan garis b dan garis b sejajar dengan garis c, maka garis a sejajar dengan garis c..
    2. Jika garis a sejajar garis b dan memotong garis c, garis b sejajar garis a dan juga memotong garis c, maka garis - garis a,b, dan c terletak pada sebuah bidang.
    3. Jika garis a sejajar dengan garis b dan garis b menembus bidang, maka garis a juga menembus bidang.
Kedudukan Garis Terhadap Bidang

  1. Garis Terletak pada Bidang
  2. Sebuah garis dikatakan terletak pada bidang, jika garis dan bidang itu sekurang - kurangnya memiliki dua titik persekutuan.
  3. Garis Sejajar Bidang
  4. Sebuah garis dikatakan sejajar bidang, jika garis dan bidang itu tidak memiliki satupun titik persekutuan.
  5. Garis Memotong atau Menembus Bidang
  6. Sebuah garis dikatakan memotong atau menembus bidang, jika garis tersebut dan bidang hanya memiliki sebuah titik persekutuan. Titik persekutuan ini dinamakan titik potong atau titik tembus..
    Sebagai contoh, perhatikan gambar kubus ABCD.EFGH di bawah ini :

    1. Rusuk - rusuk kubus yang terletak pada bidang α adalah rusuk - rusuk EF, EH, FG, dan GH
    2. Rusuk - rusuk kubus yang sejajar dengan bidang α adalah rusuk - rusuk AB, AD, BC, dan CD
    3. Rusuk - rusuk kubus yang memotong atau menembus bidang α adalah rusuk - rusuk AE, BF, CG, dan DH
    Dalil - Dalil Garis Sejajar Bidang
    1. Jika garis g sejajar dengan garis h dan garis h terletak pada bidang α, maka garis g sejajar dengan bidang α
    2. Jika bidang α melalui garis g dan garis g sejajar terhadap bidang β, maka garis potong antara bidang α dengan bidang β akan sejajar terhadap garis g
    3. Jika garis g sejajar dengan garis h dan garis h sejajar terhadap bidang α, maka garis g sejajar terhadap bidang α
    4. Jika bidang α dan bidang β berpotongan dan masing - masing sejajar terhadap garis g maka garis potong antara bidang α dan bidang &beta akan sejajar dengan garis g..
    5. garis - garis sejajar bidang
Titik Tembus Garis dan Bidang yang Berpotongan

  1. Buat bidang β melalui garis g
  2. Tentukan garis potong abtara bidang α dan β, yaitu garis (α, β)
  3. Titik potong gartis g dengan garis (α, β) adalah titik tembusnya adalah titik T
  4. titik tembus garis
Kedudukan Bidang Terhadap Bidang Lain

  1. Dua bidang Berimpit
  2. Bidang α dan β dikatakan berimpit, jika setiap titik yang terletak pada bidang &alpha juga terletakpada bidang β
  3. Dua Bidang Sejajar
  4. Bidang α dan β dikatakan sejajar, jika kedua bidang itu tidak memiliki satupun titik persekutuan..
  5. Dua Bidang Berpotongan
  6. Bidang α dan β dikatakan berpotongan, jika kedua bidang itu tepat memiliki tepat sebuah garis persekutuan..
    kedudukan bidang terhadap bidang lain
  7. Tiga Bidang Berpotongan
  8. JIka tiga buah bidang berpotongan dan memiliki tiga buah garis persekutuan, maka kemungkinan kedudukan dari ketiga garis persekutuan itu adalah berimpit, sejajar, atau melalui sebuah titik..
Jarak dari Titik ke Titik, Titik ke Garis, dan Titik ke Bidang

  1. Jarak antara Titik dan Titik
  2. Jarak antara titik P dan Q adalah panjang ruas garis PQ
  3. Jarak antara Titik dan Garis
  4. Jarak antara titik P dan garis q ditentukan dengan cara menarik garis dari titik P tegak lurus garis q, maka garis PP' adalah jarak antara titik P dan garis q, kemudian untuk memudahkan penghitungan kita buat bentuk segitiga. Apabila segitiga yang terjadi berbentuk segitiga sebarang maka penyelesaiannya bisa kita gunakan aturan cosinus, aturan sinus, atau perbandingan sudut trigonometri yang berelasi..
  5. Jarak antara Titik dan Bidang
  6. Jarak antara titik P dengan bidang α adalah panjang ruas garis PP', dengan P' merupakan proyeksi titk P pada bidang α.
Jarak dari Garis ke Garis, Garis ke Bidang, dan Bidang ke Bidang

  1. Jarak dua garis bersilangan
  2. Jarak garis BC dan AH adalah garis AB (lihat gambar di samping )
    Pada gambar diatas mencari jarak antara garis BE dan CF, kemudian dibuat bidang yang dilalui oleh kedua garis tadi, jarak dua bidang yang sejajar itu merupakan jarak antara garis BE dengan CF ( garis PQ )
  3. Jarak dua garis sejajar
  4. Pada gambar di atas mencari jarak antara 2 garis yang sejajar yaitu EH dengan BC, karena kedua garis itu sejajar maka dapat dibuat sebuah bidang yang melalui kedua garis itu, jarak kedua garis itu adalah garis BE atau CH
  5. Jarak garis dan bidang yang sejajar
  6. Gambar diatas, mencari jarak dari garis AE ke bidang DBFH yang sejajar, dibuat bidang yang melalui garis AE dimana bidang tersebut juga memotong tegak lurus bidang DBFH, dari garis persekutuan antara dua bidang ditarik garis tegak lurus AE..
  7. Jarak dua bidang yang sejajar
  8. Jarak antara bidang α dan β yang sejajar dalah jarak sebarang titik A pada bidang α dan A' pada bidang β, dimana A' adalah proyeksi titik A pada bidang β
    A = sebarang titik pada bidang α
    A' = proyeksi titik A pada bidang β
    AA' = jarak antara bidang &alpha dan beta;
Menghitung Sudut Ruang

  1. Sudut antara dua garis berpotongan
  2. Dua garis dikatakan berpotongan,maka dua garis tersebut berada dalam bidang yang sama. Maka menentukan sudut dua garis yang berpotongan sama seperti menentukan sudut berpotongan pada bidang datar..
  3. Sudut antara dua garis bersilangan
  4. Dua garis dikatakan bersilangan, maka dua garis tersebut berada dalam bidang yang berlainan. Maka menentukan sudut dua garis yang bersilangan dengan cara menggeser salah satu garis atau keduanya sehingga keduanya terletak pada bidang yang sama. Sudut yang terbentuk setelah pergeseran adalah sudut antara dua garis bersilangan yang dimaksud..
    Gambar di atas cara menentukan besar sudut antara dua garis yang bersilangan DE dan HF..
  5. Sudut antara garis dan bidang
  6. Jika suatu garis tidak tegak lurus pada bidang, maka sudut antara garis dan bidang adalah sudut lancip yang dibentuk oleh garis dan proyeksi garis tersebut pada bidang...
    P'Q = proyeksi garis PQ pada bidang
  7. Sudut antara dua bidang
  8. Sudut antara dua bidang yang berpotongan adalah sudut yang dibentuk oleh dua garis yang berpotongan, garis - garis itu tegak lurus terhadap garis potong antara kedua bidang tersebut...
    Gambar diatas menunjukkan sudut antara bidang TBC dengan bidang ABC...
sumber
»»  Baca Selengkapnya...