Klasifikasi Makhluk Hidup

+ Sistem klasifikasi : Sistem yang dapat memudahkan kita mempelajari dan mengenali makhluk hidup
+ Taksonomi : Cabang ilmu biologi yang mengkaji pengelompokkan makhluk hidup
+ Sistem klasifikasi makhluk hidup pertama kali dipelopori oleh Carolus Linnaeus
+ Proses klasifikasi – makhluk hidup dikelompokkan berdasarkan persamaan dan perbedaan cirinya :

  1. Sistem klasifikasi alami : Pengelompokkan berdasarkan ciri morfologi, anatomi, dan fisiologi
  2. Sistem klasifikasi filogeni : Pengelompokkan yang memperhatikan sejarah evolusi
  3. Sistem klasifikasi buatan : Pengelompokkan berdasarkan ciri morfologi yang mudah dilihat
Tingkatan takson makhluk hidup :

  1. Kingdom
  2. Filum (untuk hewan) atau divisio (untuk tumbuhan)
  3. Kelas
  4. Ordo
  5. Family
  6. Genus
  7. Spesies
Contoh (singa) :

  1. Kingdom : Animalia
  2. Filum : Chordata
  3. Kelas : Mammalia
  4. Ordo : Carnivora
  5. Family : Felidae
  6. Genus : Panthera
  7. Spesies : Panthera leo
Sistem tata nama makhluk hidup :
  • Carolus Linnaeus pada tahun 1735 menciptakan sistem tata nama
  • Menggunakan bahasa Latin
  • Terdiri dari 2 bagian :
  1. Bagian pertama : Nama genus (diawali huruf besar)
  2. Bagian kedua : Nama spesies (diawali huruf kecil)

  • Kedua bagian nama tersebut dicetak miring jika diketik dengan komputer atau digarisbawahi jika ditulis dengan tangan
  • Sistem penamaan yang terdiri dari 2 bagian ini disebut tata nama ganda (binomial nomenclature)
Manfaat klasifikasi :
  1. Mengetahui keanekaragaman hayati
  2. Mengenal berbagai jenis spesies makhluk hidup meliputi ciri makhluk hidup, hubungan kekerabatan, interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya
  3. Mengetahui ciri-ciri unggul dari berbagai spesies makhluk hidup, kita dapat memanfaatkan secara langsung antara lain untuk bahan pangan, sandang, dan papan
Beberapa sistem klasifikasi yang sudah dikembangkan para ilmuwan biologi :
  1. Sistem dua kingdom : Kelompok tumbuhan dan kelompok hewan
  2. Sistem tiga kingdom : Protista, plantae, dan animalia
  3. Sistem empat kingdom : Monera, protsta, plantae, dan animalia
  4. Sistem lima kingdom : Monera, protista, fungi, plantae, animalia
  5. Sistem enam kingdom : Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan animalia
Identifikasi atau determinasi adalah menentukan nama hewan atau tumbuhan dengan benar dan menempatkannya di dalam sistem klasifikasi hewan dan tumbuhan. Caranya :
  1. Ingatan : Determinasi dilakukan berdarkan pengetahuan atau ingatan kita tentang tumbuhan atau hewan yang dikenal sebelumnya
  2. Bantuan orang lain : Determinasi tumbuhan/hewan dapat dilakukan dengan meminta bantuan ahli-ahlu botani, zoologi, atau siapa saja yang dapat membantu
  3. Spesimen acuan : Identifikasi tumbuhan/hewan dilakukan dengan membandingkan secara langsung dengan spesimen acuan yang telah diidentifikasi dan diberi etiket bertuliskan namanya
  4. Pustaka : Membandingkan/mencocokkan ciri-ciri tumbuhan.hewan yang akan diidentifikasi dengan pustaka. Dapat pula mengguanakan kunci identifikasi atau determinasi
  5. Komputer : Program komputer yang dapat menyimpan, mengolah, dan memberikan keterangan tentang tumbuhan/hewan
Kunci dikotom : Kunci identifikasi dengan menelusuri jalur yang ditetapkan oleh keputusan beraturan dengan setiap pilihannya adalah biner (karena hanya ada 2 alternatif) 
»»  Baca Selengkapnya...

Biologi Sebagai Ilmu

sma kolombo

Biologi adalah ilmu tentang kehidupan. Diambil dari bahasa Yunani, bios yang berarti kehidupan dan logos yang berarti ilmu

Berdasarkan tingkat organisasi :

  1. Tingkat molekul : Biologi molekuler, biokimia, dan genetika
  2. Tingkat sel : Sitologi
  3. Tingkat jaringan : Histologi
  4. Tingkat organ dan sistem organ : Organologi, anatomi, dan fisiologi :

  • Pulmonologi : Paru-paru manusia
  • Kardiologi : Jantung manusia
  • Endokrinologi : Sistem endoktrin manusia
  • Neurologi : Sistem saraf manusia
     5.  Tingkat individu : Biologi perkembangan
     6.  Tingkat populasi : Biologi populasi, biogeografi, dan generika populasi
     7.  Tingkat ekosistem : Ekologi, ilmu lingkungan, toksikologi, biologi kelautan,

                                          dan limnologi
     8.  Tingkat bioma : Bioma tropis

Cabang biologi yang mempelajari kehidupan pada suatu kelompok organisme, diantaranya sebagai berikut :

  1. Taksonomi : Pengelompokkan berdasarkan persamaan dan perbedaan organisme
  2. Virologi : Virus
  3. Mikrobiologi : Mikroorganisme
  4. Bakteriologi : Bakteri
  5. Mikologi : Jamur, ragi, dan kapang
  6. Botani : Tumbuhan. Co : 

  •    Pteridologi : Paku
  •    Bryologi : Lumut
     7.  Zoologi : Hewan. Co:
  • Entomologi : Serangga
  • Iktiologi : Ikan
  • Herpetologi : Reptilia dan amfibi
  • Ornitologi : Unggas
  • Mamologi : Mamalia
Cabang biologi berdasarkan aspek kehidupan :
  1. Biologi perkembangan : Perkembangan individu organisme
  2. Embriologi : Perkembangan embrio
  3. Anatomi : Struktur internal organisme
  4. Fisiologi : Fungsi-fungsi yang terjadi pada kehidupan organisme
Cabang biologi kelompok ilmu campuran dan terapan :
  1. Biokimia : Proses kimia dalam sistem kehidupan
  2. Biofisika : Proses fisika dalam sistem kehidupan
  3. Bioteknologi : Teknologi yang memanfaatkan organisme
  4. Paleontologi : Perkembangan sejarah kehidupan berdasarkan catatan fosil
Manfaat biologi :
  1. Bidang pertanian : Peningkatan produksi pangan
  • Teknik penanaman yang lebih efisien
  • Tanaman budidaya melalui rekayasa genetika, mampu menghasilkan insektisida sendiri
  • Teknik kultur jaringan
  • Teknik rekayasa genetika, buah-buahan tanpa biji
     2.  Bidang peternakan : Peningkatan produksi hewan ternak
  • Inseminasi buatan (kawin suntik)
  • Fertilisasi in vitro, menghasilkan embrio diluar uterus
     3.  Bidang kesehatan : Pencegahan diagnosa, dan penanganan terhadap 
                                          berbagai penyakit dan kelainan
  • Transplantasi organ
  • Menciptakan vaksin-vaksin
  • Teknik bayi tabung
  • Antibiotik 
     4. Bidang industri :
  • Pemanfaatan mikroorganisme dalam industri makanan
  • Pemanfaatan beberapa jenis mikroorganisme dalam industri obat-obatan

Metode ilmiah, tahapannya :

  1. Menemukan masalah : Pertanyaan yang timbul dari melihat masalah
  2. Mengajukan hipotesis : Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah, hipotesis didasari pada pengetahuan dan hasil penelitian terdahulu
  3. Melakukan percobaan : Untuk menguji kebenaran hipotesis. Sebelum melakukan percobaan, harus dilakukan perencanaan percobaan yang meliputi : 

  • Menentukan alat dan bahan
  • Menentukan variabel :
        +. Variabel adalah ciri objek yang dapat diukur secara kuantitatif dan memiliki
             nilai
             yang berubah-ubah
        +. Variabel bebas merupakan faktor yang diubah
        +. Variabel terikat adalah faktor yang berubah tergantung perubahan variabel
             bebas
        +. Pada percobaan biologi terdapat 2 kelompok : Kelompok yang diberi perlakuan
            dan kelompok kontrol (Kelompokyang tidak diberi perlakuan)
     4.  Menarik kesimpulan : Berisi hasil percobaan yang dapat mendukung atau 

                                             tidak mendukung hipotesis yang dibuat sebelumnya

Laporan ilmiah, urutannya :

  1. Perumusan masalah dan hipotesis 
  2. Tujuan
  3. Metode 
  4. Hasil
  5. Pembahasan : Harus menunjukkan apakah kasil tersebut menjawab hipotesis awal atau tidak
  6. Kesimpulan : Intisari atau hasil percobaan dan pembahasaan. Harus menjawab pertanyaan awal yang diajukan sebelum melakukan pecobaan
sumber
»»  Baca Selengkapnya...

Struktur Atom

Jembatan keledai :
  1. Gol IA : Helina kawin Robi cs frustasi
  2. Gol IIA : Bencong manggarai kalau sore baru ramai
  3. Gol IIIA : Body Ali gaya Indonesia tulen
  4. Gol IVA : Cewek si gepeng senang pembantu
  5. Gol VA : Naik perahu asik sambil begituan
  6. Gol VIA : Orang solo senang teh poci
  7. Gol VIIA : Film Charles Bronson idaman Atun
  8. Heboh negara Argentina karena xenat runtuh
Perkembangan sistem periodik, pengelompokkan unsur menurut :
  1. Lavoisier :
  • Mengelompokkan 33 unsur kimia
  • Berdasarkan sifat kimianya
  • Unsur kimia dibagi menjadi 4 kelompok : gas, tanah, logam, dan nonlogam
  • Kelemahannya : Pengelompokkan masih bersifat umum
     2.  J.W. Dobereiner :
  • Berdasarkan kemiripan sifat-sifatnya
  • 3 unsur yang sifatnya mirip dikelompokkan, maka massa atom (Ar) unsur yang kedua (tengah) merupakan massa atom rata-rata dari massa atom unsur pertama dan ketiga
  • Dikenal dengan hukum Triade
  • Kelemahan : Bila ditemukan 1 unsur yang mirip lagi. Maka bukan triade & massa yang ditengah bukan rata-rata zat pertama dan ketiga lagi
     3.  J. Newlands :
  • Berdasarkan kenaikkan massa atom relatif
  • Sifat-sifat unsur terulang secara teratur setiap unsur ke 8, sehingga unsur pertama mirip dengan unsur ke kedelapan, dan seterusnya
  • Dikenal sebagai hukum oktaf
     4.  D. Mendeleev :
  • Berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya, dan sifat-sifat unsur
  • Unsur yang sifatnya sama ditempatkan pada lajur tegak (vertikal) yang disebut golongan
  • Modern / Moseley :
  • Sifat dasar atom bukan pada kenaikkan massa atom, tapi pada kenaikkan jumlah proton atau nomor atom
  • Didasarkan pada kenaikkan nomor atom dan sifat-sifat unsur

Susunan unsur dalam sistem periodik modern :
  1. Golongan :
  • Lajur vertikal
  • Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki. Unsur dalam 1 golongan memiliki sifat yang mirip
  • Golongan IA : Alkali
  • Golongan IIA : Alkali tanah
  • Golongan VIIA : Halogen
  • Golongan VIIIA : Gas mulia
  • Golongan IIIA : Boron-alumunium
  • Golongan IVA : Karbon-silikon
  • Golongan VA : Nitrogen-fosforus
  • Golongan VIA : Oksigen-belerang
  • Golongan IB-VIIIB : Golongan transisi
     2.  Periode :
  • Lajur horizontal
  • Menunjukkan nomor kulit sudah terisi elektron berdasarkan konfigurasi elektron

Struktur atom :
  1. Partikel dasar penyusun atom :
  • Elektron : Partikel bermuatan negatif, ditemukan oleh J.J. Thomson
  • Proton : Partikel bermuatan positif, ditemukan oleh Ernest Rutherford
  • Neutron : Partikel yang tidak bermuatan, ditemukan oleh James Chadwick
     2.  Nomor Atom dan Nomor massa :
  • Nomor atom : Nomor atom suatu unsur menunjukkan jumlah proton yang terdapat dalam atom. Disingkat "NA" dan diberi lambang "Z". Muatan atom suatu unsur selalu netral. Oleh karena itu, jumlah proton selalu sama dengan jumlah elektron
  • Nomor massa : Nomor massa menggambarkan massa partikel-partikel penyusun atom, yaitu massa proton, massa elektron, dan massa neutron (dapat diabaikan karena sangat kecil). Disingkat "NM" diberi lambang "A" dan didefinisikan sebagai jumlah proton dan jumlah neutron

Isotop, Isobar, dan Isoton :
  1. Isotop : Atom-atom yang memiliki nomor atom sama, tetapi nomor massanya berbeda. Jumlah proton sama, tapi jumlah neutron berbeda
  2. Isobar : Atom-atom yang memiliki nomor massa sama, tetapi nomor atomnya berbeda. Sifat kimia berbeda, kesamaannya hanya massanya
  3. Isoton : Atom-atom yang memiliki jumlah neutron sama, tetapi jumlah protonnya berbeda

Konfigurasi elektron dan elektron valensi :

  1. Konfigurasi elektron : Elektron dalam atom tersusun berdasarkan tingkat energinya. Konfigurasi elektron perkulit didasarkan pada jumlah elektron maksimum yang dapat mengisi setiap kulit. Rumus : 2n2. n = nomor kulit
  2. Elektron valensi : Elektron yang terletak pada kulit terluar sehingga memiliki tingkat energi tertinggi. Berperan dalam reaksi kimia, dapat di lepas, di pertukarkan, atau di pakai bersama dengan atom lain membentuk ikatan kimia. Menentukan sifat kimia atom (menentukan golongan)

Sifat-sifat unsur (logam dan non logam) : Dipengaruhi oleh elektron valensinya

  1. Sifat logam : Kemampuan suatu atom melepas elektron atau menjadi bermuatan positif
  2. Sifat nonlogam : Kecenderungan suatu atom untuk menerima elektron, atau menjadi bermuatan negatif
Dalam sistem periodik, dari bawah ke atas dan dari kiri ke kanan, sifat logam unsur semakin berkurang dan sifat nonlogam semakin bertambah

Massa atom relatif dan massa molekul relatif :

     1. Massa atom relatif (Ar) :
     2. Massa molekul relatif (Mr) : AxByCz = A.x + B.y + C.z
         Contoh : Al (OH)3 : Al O3 H3 = 27 + 16.3 + 1.3 = 78

Sifat-sifat sistem periodik :

  1. Jari-jari elektron : Jarak elektron terluar ke inti atom dan menunjukkan ukuran suatu atom. Semakin keatas cenderung semakin kecil, karena kulit elektron semakin kecil. Semakin kekanan cenderung semakin kecil, katena jumlah proton & elektron sama tetapi kulit terluar yang terisi elektron tetap sama sehingga tarikan inti terhadap elektron luar semakin besar
  2. Keelektronegatifan : Kecenderungan suatu atom untuk menarik elektron. Dari atas ke bawah harga keelektronegatifan semakin besar, dari kiri ke kanan harga keelektronegatifan semakin besar
  3. Energi ionisasi : Nilai energi minimum yang diperlukan atom netral dalam wujud gas untuk melepas sebuah elektron paling luar membentuk ion positif. Semakin kecil jari-jari atom, harga energi ionisasi akan semakin besar. Semakin besar muatan inti energi ionisasi cenderung akan semakin besar
  4. Afinitas elektron : Energi yang di bebaskan oleh suatu atom dalam wujud gas ketika menerima sebuah elektron. Harga afinitas sukar ditentukan secara langsung

Perkembangan teori dan model atom :

  1. Teori dan model atom Dalton : Atom merupakan materi yang tak terbagi. Atom merupakan partikel terkecil suatu materi yang berbentuk bola. Bola-bola atom tersebut khas setiap unsurnya
  2. Teori dan model atom Thomson : Atom merupakan bola yang bermuatan positif dan elektron menyebar diseluruh bagian atm. Diibaratkan seperti roti kismis
  3. Teori dan model atom Rutherford : Inti atom yang bermuatan positif berada jauh di dalam atom, sedangkan elektron berputar mengelilinginya. Lintasan elektron, pengaruh gaya tarik elektrostatis elektron yang bermuatan negatif dan inti atom yang bermuatan positif
  4. Teori dan model atom Bohr : Elektron beredar mengelilingi inti atom dengan tingkat-tingkat energi tertentu. Perpindahan elektron dapat terjadi dengan cara menyerap energi atau melepaskan energi
  5. Teori dan model atom mekanika kuantum :
  • Dasar pertama, hipotesis De Broglie : Elektron bukan hanya merupakan partikel, melainkan dapat juga dipandang sebagai gelombang
  • Dasar kedua, asas ketidakpastian Heisenberg : Kedudukan elektron tidak dapat ditentukan secara pasti. Lintasan bergeraknya elektron bukan merupakan garis yang pasti, melainkan sebuah ruang (orbital)
  • Erwin Schrodinger : Merumuskan persamaan gelombang gerakan elektron dalam suatu atom3 bapak atom modern : Broglie, Heisenberg, Erwin Schrodinger
»»  Baca Selengkapnya...

Sistem Pencernaan Pada Hewan

Struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel.

1. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata
Sistem pencernaan pada hewan invertebrata umumnya dilakukan secara intrasel, seperti pada protozoa, porifera, dan Coelenterata.
Pencernaan dilakukan dalam alat khusus berupa vakuola makanan, sel koanosit dan rongga gastrovaskuler. Selanjutnya, pada cacing parasit seperti pada cacing pita, alat pencernaannya belum sempurna dan tidak memiliki mulut dan anus. pencernaan dilakukan dengan cara absorbs langsung melalui kulit.
a. Sistem Pencernaan Makanan Pada Cacing Tanah
sma kolombo
cacing

yang dikeluarkan oleh getah pencernaan secara ekstrasel. Makanan cacing tanah berupa daun-daunan serta sampah organik yang sudah lapuk. Cacing tanah dapat mencerna senyawa organik tersebut menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap oleh tubuhnya. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus.

b. Sistem Pencernaan Pada Serangga
Sebagaimana pada cacing tanah, serangga memiliki sistem pencernaan makanan yang sudah sempurna, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus sampai anus.Pencernaan pada serangga dilakukan secara ekstrasel.

2. Sistem Pencernaan Pada Hewan vertebrata
Organ pencernaan pada hewan vertebrata meliputi saluran pencernaan (tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (glandula digestoria
a. Sistem Pencernaan Pada Ikan
Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Di dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakan serta banyak menghasilkan lendir, tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang.
Esofagus berbentuk kerucut, pendek, terdapat di belakang insang, dan bila tidak dilalui makanan lumennya menyempit. Dari kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung, lambung pada umum-nya membesar, tidak jelas batasnya dengan usus. Pada beberapa jenis ikan, terdapat tonjolan buntu untuk memperluas bidang penyerapan makanan.
Dari lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya. Usus bermuara pada anus.
Kelenjar pencernaan pada ikan, meliputi hati dan pankreas. Hati merupakan kelenjar yang berukuran besal, berwarna merah kecoklatan, terletak di bagian depan rongga badan dan mengelilingi usus, bentuknya tidak tegas, terbagi atas lobus kanan dan lobus kiri, serta bagian yang menuju ke arah punggung. Fungsi hati menghasilkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu untuk membanfu proses pencernaan lemak. Kantung empedu berbentuk bulat, berwarna kehijauary terletak di sebelah kanan hati, dan salurannya bermuara pada lambung. Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan empedu dan disalurkan ke usus bila diperlukan. Pankreas merupakan organ yang berukuran mikroskopik sehingga sukar dikenali, fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim – enzim pencernaan dan hormon insulin.
b. Sistem Pencernaan Pada Amfibi
Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hampir sama dengan ikan, meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. salah satu binatang
amphibi adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada katak meliputi:
1. rongga mulut: terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah untuk menangkap mangsa,
2. esofagus; berupa saluran pendek,
3. ventrikulus (lambung), berbentuk kantung yang bila terisi makanan
menjadi lebar. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan lubang keluar menuju usus,
4. intestinum (usus): dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal. Usus halus meliputi: duodenum. jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
5. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloata, dan
6. kloaka: merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan, saluran reproduksi, dan urine.

Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. pankreas berwarna
Kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum). pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum.
c. Sistem Pencernaan Pada Reptil
Sebagaimana pada ikan dan amfibi, sistem pencernaan makanan pada reptil meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptil umumnya karnivora (pemakan daging). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada reptil meliputi:
1) rongga mulut: bagian rongga mulut disokong oleh rahang atas dan bawah, masing-masing memiliki deretan gigi yang berbentuk kerucut, gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah rongga mulut. Pada rongga mulut juga terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua,
2) esofagus (kerongkongan),
3) ventrikulus(lambung),
4) intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus.

Kelenjar pencernaan pada reptil meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas. Hati pada reptilia memiliki dua lobus (gelambirf dan berwarna
kemerahan. Kantung empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati.
Pankreas berada di antara lambung dan duodenum, berbentuk pipih kekuning-kuningan.
d. Sistem Pencernaan Pada Burung
Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan.
Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:
1) paruh: merupakan modifikasi dari gigi,
2) rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk,
3) faring: berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat,
4) lambung terdiri atas:

- Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
- Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan vang berguna untuk membantu pencernaan dan disebut sebagai ” hen’s teeth”,
5) intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.
e. Sistem Pencernaan pada Hewan Mamah Biak (Ruminansia)
Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain.
Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di samping itu, pada hewan ruminansia terdapat modifikasi lambung yang dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu: rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab), dan abomasum (perut masam).
Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retlkulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasums 7-8′/o.Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot spingter berkontraksi. Abomasum merupakan lambung yang sesungguhnya pada hewan ruminansia.
Hewan herbivora, seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti halnya pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banvak mengandung bakteri. proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi dilambung. Akibatnya,
kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yaitu pada sekum. Sedangkan pada sapi, proses pencernaan terjadi dua kali, yaitu pada lambung dan sekum keduanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.
Adanya bakteri selulotik pada lambung hewan memamah biak merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang dapat menghasilkan vitamin B serta asam amino. Di samping itu, bakteri ini dapat ,menghasilkan gas metan (CH4), sehingga dapat dipakai dalam pembuatan biogas sebagai sumber energi altematif.

Sistem pencernaan makanan pada cacing tanah sudah sempurna. Cacing tanah memiliki alat-alat pencernaan mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan anus. Proses pencernaan dibantu oleh enzim – enzim


»»  Baca Selengkapnya...

Sistem Ekskresi Pada Hewan

Hewan Avertebrata
Ekskresi berarti pengeluaran zat buangan atau zat sisa hasil metabolisme yang berlangsung dalam tubuh organisme. Zat sisa metabolisme dikeluarkan dari tubuh oleh alat ekskresi. Alat ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya berupa ginjal, paru-paru, kulit, dan hati, sedangkan alat pengeluaran pada hewan invertebrata berupa nefridium, sel api, atau buluh Malphigi.
Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh.
Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna empedu, dan asam urat.
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut.
Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea.
Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin.
Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah.
ugas pokok alat ekskresi ialah membuang sisa metabolisme tersebut di atas walaupun alat pengeluarannya berbeda-beda.
Sistem Ekskresi Inverterata
Sistem ekskresi invertebrata berbeda dengan sistem ekskresi pada vertebrata. Invertebrata belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna seperti pada vertebrata. Pada umumnya, invertebrata memiliki sistem ekskresi yang sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan invertebrata lainnya.
Alat ekskresinya ada yang berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Nefridium adalah tipe yang umum dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata. Berikut ini akan dibahas sistem ekskresi pada cacing pipih(Planaria), cacing gilig (Annellida), dan belalang.
Sistem Ekskresi pada Cacing Pipih. Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut sebagaiprotonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang dilengkapi dengan silia. Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti gerakan api lilin. Air dan beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus dan menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh (nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini. 
Gbr. Struktur alat ekskresi pada casing pipih

Sebagian besar sisa nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke sistem pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi secara langsung dari sel ke air. 
Dua sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska 
Anelida dan molluska mempunyai organ nefridium yang disebutmetanefridium. Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir. 
Metanefridium memiliki dua lubang. Lubang yang pertama berupa corong, disebutnefrostom (di bagian anterior) dan terletak pada segmen yang lain. Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga tubuh (pseudoselom). Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong (nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya. 
Gbr. Sistem ekskresi pada anelida

Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung. Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuhmelalui pori yang merupakan lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar.
Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi. 
Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi.3. Alat Ekskresi pada Belalang 
Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus yang berwarna putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata. 
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut. 
Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan fese

.
Gbr. Sistem Ekskresi pada belalang

Hewan Vertebrata
Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ paru-paru, kulit, ginjal, dan hati. Namun yang terpenting dari keempat organ tersebut adalah ginjal

  1.  Ginjal 
Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen misalnya amonia. Amonia adalah hasil pemecahan protein dan bermacam-macam garam, melalui proses deaminasi atau proses pembusukan mikroba dalam usus. Selain itu, ginjal juga berfungsi mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya vitamin yang larut dalam air; mempertahankan cairan ekstraselular dengan jalan mengeluarkan air bila berlebihan; serta mempertahankan keseimbangan asam dan basa. Sekresi dari ginjal berupa urin. 



Gbr. Alat-alat ekskresi pada manusia yang berupa ginjal, kulit, paruparu, dan kelenjar keringata.

Struktur Ginjal 
Bentuk ginjal seperti kacang merah, jumlahnya sepasang dan terletak di dorsal kiri dan kanan tulang belakang di daerah pinggang. Berat ginjal diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan panjangnya ± 10 cm. Setiap menit 20-25% darah dipompa oleh jantung yang mengalir menuju ginjal. 
Ginjal terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
  1. korteks (bagian luar) 
  2. medulla (sumsum ginjal) 
  3. pelvis renalis (rongga ginjal). 
Bagian korteks ginjal mengandung banyak sekali nefron ± 100 juta sehingga permukaan kapiler ginjal menjadi luas, akibatnya perembesan zat buangan menjadi banyak. Setiap nefron terdiri atas badan Malphigi dan tubulus (saluran) yang panjang. Pada badan Malphigi terdapatkapsul Bowman yang bentuknya seperti mangkuk atau piala yang berupa selaput sel pipih. Kapsul Bowman membungkus glomerulus. Glomerulus berbentuk jalinan kapiler arterial. Tubulus pada badan Malphigi adalah tubulus proksimal yang bergulung dekat kapsul Bowman yang pada dinding sel terdapat banyak sekali mitokondria. Tubulus yang kedua adalah tubulus distal. 


Gbr. Ginjal terletak di dorsal pinggang berjumlah sepasang 


Gbr. Struktur dalam (anatomi) ginjal 

Pada rongga ginjal bermuara pembuluh pengumpul. Rongga ginjal dihubungkan oleh ureter (berupa saluran) ke kandung kencing (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara urin sebelum keluar tubuh. Dari kandung kencing menuju luar tubuh urin melewati saluran yang disebut uretra. 

Proses-proses di dalam Ginjal 
Di dalam ginjal terjadi rangkaian prows filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi
     1.  Penyaringan (filtrasi) 
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garamgaram lainnya. 
     2.  Penyerapan kembali (Reabsorbsi)
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin seku Zder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03`, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
     3.  Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin.
       Hal-hal yang Mempengaruhi Produksi Urin
Hormon anti diuretik (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior akan mempengaruhi penyerapan air pada bagian tubulus distal karma meningkatkan permeabilitias sel terhadap air. Jika hormon ADH rendah maka penyerapan air berkurang sehingga urin menjadi banyak dan encer. Sebaliknya, jika hormon ADH banyak, penyerapan air banyak sehingga urin sedikit dan pekat. Kehilangan kemampuan mensekresi ADH menyebabkan penyakti diabetes insipidus. Penderitanya akan menghasilkan urin yang sangat encer.
Selain ADH, banyak sedikitnya urin dipengaruhi pula oleh faktor-faktor berikut :
  • Jumlah air yang diminum
Akibat banyaknya air yang diminum, akan menurunkan konsentrasi protein yang dapat menyebabkan tekanan koloid protein menurun sehingga tekanan filtrasi kurang efektif. Hasilnya, urin yang diproduksi banyak.
  • Saraf
Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang. Akibatnya, filtrasi kurang efektif karena tekanan darah menurun.
  • Banyak sedikitnya hormon insulin
Apabila hormon insulin kurang (penderita diabetes melitus), kadar gula dalam darah akan dikeluarkan lewat tubulus distal. Kelebihan kadar gula dalam tubulus distal mengganggu proses penyerapan air, sehingga orang akan sering mengeluarkan urin 
   2.  Paru-paru (Pulmo) 
Fungsi utama paru-paru adalah sebagai alat pernapasan. Akan tetapi, karma mengekskresikan zat Sisa metabolisme maka dibahas pula dalam sistem ekskresi. Karbon dioksida dan air hash metabolisme di jaringan diangkut oleh darah lewat vena untuk dibawa ke jantung, dan dari jantung akan dipompakan ke paru-paru untuk berdifusi di alveolus. Selanjutnya, H2O dan CO2 dapat berdifusi atau dapat dieksresikan di alveolus paru-paru karena pada alveolus bermuara banyak kapiler yang mempunyai selaput tipis. Karbon dioksida dari jaringan sebagian besar (75%) diangkut oleh plasma darah dalam bentuk senyawa HC03, sedangkan sekitar 25% lagi diikat oleh Hb yang membentuk karboksi hemoglobin (HbC02). 
   3.  Hati (Hepar) 
Hati disebut juga sebagai alat ekskresi di samping berfungsi sebagai kelenjar dalam sistem pencernaan. Hati menjadi bagian dari sistem ekskresi karma menghasilkan empedu. Hati juga berfungsi merombak hemoglobin menjadi bilirubin dap biliverdin, dap setelah mengalami oksidasi akan berubah jadi urobilin yang memberi warna pada feses menjadi kekuningan. Demikian juga kreatinin hash pemecahan protein, pembuangannya diatur oleh hati kemudian diangkut oleh darah ke ginjal. Jika saluran empedu tersumbat karena adanya endapan kolesterol maka cairan empedu akan masuk dalam sistem peredaran darah sehingga cairan darah menjadi lebih kuning. Penderitanya disebut mengalami sakit kuning. 
   4.  Kulit (Cutis)
Kulit berfungsi sebagai organ ekskresi karma mengandung kelenjar keringat (glandula sudorifera) yang mengeluarkan 5% sampai 10% dari seluruh sisa metabolisme. Pusat pengatur suhu pada susunan saraf pusat akan mengatur aktifitas kelenjar keringat dalam mengeluarkan keringat.Keringat mengandung air, larutan garam, dap urea. Pengeluaran keringat yang berlebihan bagi pekerja berat menimbulkan hilangmelanositnya garam-garam mineral sehingga dapat menyebabkan kejang otot dan pingsan. Selain berfungsi mengekskresikan keringat, kulit juga berfungsi sebagai pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, serangan kuman, penguapan, sebagai organ penerima rangsang (reseptor), serta pengatur suhu tubuh. Kulit terdiri atas dua bagian utama yaitu: epidermis dan dermis. 
  • Epidermis (lapisan terluar) dibedakan lagi atas: 
  1. stratum korneum berupa zat tanduk (sel mati) dan selalu mengelupas
  2. stratum lusidum
  3. stratum granulosum yang mengandung pigmen
  4. stratum germinativum ialah lapisan yang selalu membentuk sel-sel kulit ke arah luar.

  •  Dermis

 Pada bagian ini terdapat akar rambut, kelenjar minyak, pembuluh darah, serabut saraf, serta otot penegak rambut. Kelenjar keringat akan menyerap air dan garam mineral dari kapiler darah karena letaknya yang berdekatan. Selanjutnya, air dan garam mineral ini akan dikeluarkan di permukaan kulit (pada pori) sebagai keringat. Keringat yang keluar akan menyerap panas tubuh sehingga suhu tubuh akan tetapi dalam kondisi normal, keringat yang keluar sekitar 50 cc per jam. Jumlah ini akan berkurang atau bertambah jika ada faktor-faktor berikut suhu lingkungan yang tinggi, gangguan dalam penyerapan air pada ginjal (gagal ginjal), kelembapan udara, aktivitas tubuh yang meningkat sehingga proses metabolisme berlangsung lebih cepat untuk menghasilkan energi, gangguan emosional, dan menyempitnya pembuluh darah akibat rangsangan pada saraf simpatik. 
+ Nefrologi Dan Ekskresi

Ginjal merupakan organ yang menyelenggarakan Homeostasis.Ginjal terdiri dari :
  1. Bagian Korteks yang berisi Nefron (terdiri dari Glomerulus dan Kapsula Bowman).
  2. Bagian Medula yang berisi Tubulus Ginjal. 
Tahapan Pembentukan Urine
  1. Reaksi Filtrasi
  2. Reaksi Rearsorbsi
  3. Reaksi Ekskresi (Augmentasi) 
Proses Pembentukan Urine
Darah difiltrasi menjadi Filtrat Glomerulus (Urine Primer) Þ reabsorbsi di Tubulus Kontortus Proksimal menjadi Filtrat Tubulus (Urine Sekunder) Þaugmentasi di Tubulus Kontortus Distal Þ U R I N E. 

Jumlah Urine Dipengaruhi oleh:
  • Jumlah cairan yang diminum (Balans cairan).
  • Jumlah garam yang masuk.
  • Hormon Antidiuretika (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis..postenor. Defisisensi hormon akan menyebabkan penyakit Diabetes..Insipidus --> jumlah urine yang keluar terlalu banyak. 
Metabolisme Protein Hingga Menghasilkan Urea 

ORNITIN + NH3 + COz 4 SITRULIN2. SITRULIN + NH3 4 ARGININ3. ARGININ 4 ORNITIN + UREA
Reaksi ke-3 dibantu oleh enzim Arginase, Sitrulin, Arginin dan Ornitin adalah nama asam amino.


SUMBER.

»»  Baca Selengkapnya...

Sistem Ekskresi Pada Manusia

Manusia memiliki organ atau alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu.Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. 
Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari:
  1. Paru-paru
  2. Hati
  3. Kulit
  4. Ginjal

1. Paru - Paru

Paru - Paru 
Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru kiri memiliki dua gelambir.
Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut selaput pleura. 

Fungsi Paru - Paru 
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan KARBONDIOKSIDA (CO2) dan UAP AIR (H2O).
Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung 
Kelainan - Kelainan Pada Paru - Paru
  1. Asma atau sesak nafas, yaitu kelainan yang disebabkan oleh penyumbatan saluran pernafasan yang diantaranya disebabkan oleh alergi terhadap rambut, bulu, debu atau tekanan psikologis. 
  2. Kanker Paru-Paru, yaitu gangguan paru-paru yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Penyebab lain adalah terlalu banyak menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum dan radiasi ionisasi. Kelainan ini mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru. 
  3. Emphysema, adalah penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya terisi udara. 
Cara Mengatasi Kelainan Pada Paru - Paru

Upaya menghindari dan mengatasi kelainan-kelainan pada paru-paru adalah dengan menjalankan pola hidup sehat, diantaranya:
  1. Mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur.
  2. Berolah raga dengan teratur
  3. Istirahat minimal 6 jam per hari
  4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan narkoba
  5. Hindari Stress
2. Hati (Hepar)
Hati merupakan “kelenjar” terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia. Letaknya di dalam rongga perut sebelah kanan. Berwarna merah tua dengan berat mencapai 2 kilogram pada orang dewasa. Hati terbagi menjadi dua lobus, kanan dan kiri.
Zat racun yang masuk ke dalam tubuh akan disaring terlebih dahulu di hati sebelum beredar ke seluruh tubuh. Hati menyerap zat racun seperti obat-obatan dan alkohol dari sistem peredaran darah. Hati mengeluarkan zat racun tersebut bersama dengan getah empedu.
Fungsi Hati
Hati merupakan organ yang sangat penting, berfungsi untuk:
  1. Menghasilkan empedu yang berasal dari perombakan sel darah merah
  2. Menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan membunuh bibit penyakit
  3. Mengubah zat gula menjadi glikogen dan menyimpanya sebagai cadangan gula
  4. Membentuk protein tertentu dan merombaknya
  5. Tempat untuk mengubah pro vitamin A menjadi vitamin
  6. Tempat pembentukan protrombin yang berperan dalam pembekuan darah
Zat warna empedu hasil perombakan sel darah merah yang telah rusak tidak langsung dikeluarkan oleh hati, tetapi dikeluarkan melalui alat pengeluaran lainnya. Misalnya, akan dibawa oleh darah ke ginjal dan dikeluarkan bersama-sama di dalam urin.

Kelainan - Kelainan Pada Hati

Gangguan pada hati yang umumnya dijumpai di masyarakat saat ini adalah HEPATITIS atau PENYAKIT KUNING. Disebut demikian karena tubuh penderita menjadi kekuningan, disebabkan zat warna empedu beredar ke seluruh tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh serangan virus yang dapat menular melalui makanan, minuman, jarum suntik dan transfusi darah.
Hepatitis adalah peradangan pada sel-sel hati. Penyebab penyakit hepatitis yang utama adalah virus. Virus hepatitis yang sudah ditemukan sudah cukup banyak dan digolongkan menjadi virus hepatitis A, B, C, D, E, G, dan TT. Beberapa jenis hepatitis yang saat ini harus diwaspadai adalah:
  1. Hepatitis A yang disebabkan oleh Virus Hepatitis A (VHA)
  2. Hepatitis B yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB)
  3. Hepatitis C yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C (VHC)
Mengatasi - Mengatasi Kelainan Pada Hati
Cara mengatasi kelainan-kelainan pada hati diantaranya adalah dengan:
  1. Pemberian vaksinasi
  2. Makan makanan yang sehat
  3. Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang
  4. Berolahraga dengan teratur
  5. Sterilisasi penggunaan jarum suntik
  6. Menghindari pergaulan bebas (berganti-ganti pasangan
3. Kulit
Seluruh permukaan tubuh kita terbungkus oleh lapisan tipis yang sering kita sebut kulit. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar.

Fungsi Kulit
Fungsi kulit antara lain sebagai berikut:
  • mengeluarkan keringat
  • pelindung tubuh
  • menyimpan kelebihan lemak
  • mengatur suhu tubuh, dan
  • tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D dengan
  • bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet
Proses Pembentukan Keringat

Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi, pembuluh-pembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal.

Kelainan pada kulit yang banyak dialami oleh para remaja adalah jerawat. Ada tiga tipe jerawat, yaitu:
  1. Komedo 
  2. Jerawat biasa 
  3. Cystic Acne (Jerawat Batu/Jerawat Jagung)
Banyak jenis obat dan perawatan yang ditawarkan untuk menghilangkan jerawat. Namun, sesungguhnya alam sudah menyediakan aneka tanaman yang mampu menghilangkan jerawat. Tanaman-tanaman itu antara lain tomat, jeruk nipis, belimbing wuluh, mentimun, dan temulawak.

Mengatasi Kelainan Pada Kulit

Kulit perlu mendapat perawatan yang tepat agar senantiasa sehat. Berikut 4 langkah perawatan kulit yang sangat mendasar:
  • Makan Makanan Yang Mengandung Nutrisi 
Kulit seperti juga organ tubuh lain, terdiri atas sel-sel yang berkembang dan membutuhkan berbagai nutrisi. Nutrisi pada kulit digunakan untuk mengaktifkan sirkulasi darah ke kulit, menjaga kelenturan dan kekencangan kulit serta mencegah oksidasi lemak yang menyebabkan kulit menjadi kering.
  • Minum Air Putih Minimal 8 Gelas Setiap Hari 
Air berfungsi sebagai media untuk mengangkut dan membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh dan mencegah kekeringan. Selain 8 gelas air segar setiap hari, asupan cairan yang baik bagi kulit bisa didapatkan dari buah dan sayuran.
  • Berolahraga Dengan Teratur 
Olahraga teratur 3 kali seminggu akan membantu kelancaran sirkulasi darah, sehingga asupan nutrisi kulit terpenuhi.
  • Mandi Untuk Membersihkan Badan 
Mandi secara teratur menggunakan sabun, bermanfaat menghilangkan lemak dan kotoran pada permukaan kulit. Namun kita perlu berhati-hati dalam memilih sabun, karena detergen yang terkandung di dalamnya cenderung meningkatkan pH kulit sehingga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit. 
4. Ginjal

Dunia kedokteran biasa menyebutnya ‘ren’ (renal/kidney). Bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Struktur ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat jutaan nefron yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya terdapat Glomerolus.

Fungsi Ginjal
  1. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh 
  2. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan 
  3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian tubulus ginjal 
  4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia 
  5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang 
Proses Pembentukan Urine

Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
  • Penyaringan (filtrasi) 
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.
Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya
  • Penyerapan kembali (reabsorbsi) 
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea. 
  • Augmentasi 
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal.
Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra.
Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
Kelainan Pada Ginjal
Kelainan-kelainan pada ginjal diantaranya adalah gagal ginjal dan batu ginjal.
  • Gagal Ginjal 
Gagal ginjal merupakan kelainan pada ginjal dimana ginjal sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya yaitu menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme. 
Penyebab terjadinya gagal ginjal antara lain disebabkan oleh: 
  1. Makan makanan berlemak 
  2. Kolesterol dalam darah yang tinggi 
  3. Kurang berolahraga 
  4. Merokok, dan 
  5. Minum minuman beralkohol. 
Mengatasi Gagal Ginjal
Kemajuan ilmu pengetahuan, memungkinkan fungsi ginjal digantikan. Penggantian fungsi tersebut dikenal dengan Renal Replacement Therapy (RRT) atau Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Ada dua cara TPG, yakni transplantasi/cangkok ginjal dan dialisis/cuci darah . Dialisis/cuci darah dibedakan menjadi:
  1. HD (Hemodialisis), dialisis dengan bantuan mesin 
  2. PD (Peritoneal Dialisis), dialisis melalui rongga perut 
  3. Batu Ginjal 
Urine banyak mengandung mineral dan berbagai bahan kimiawi. Urin belum tentu dapat melarutkan semua itu. Apabila kita kurang minum atau sering menahan kencing, mineral-mineral tersebut dapat mengendap dan membentuk batu ginjal.
Batu ginjal merupakan kristal yang terlihat seperti batu yang terbentuk di ginjal. Kristal-kristal tersebut akan berkumpul dan saling berlekatan untuk membentuk formasi “batu”. Apabila batu tersebut menyumbat saluran kemih antara ginjal dan kandung kemih, saluran kemih manusia yang mirip selang akan teregang kuat karena menahan air seni yang tidak bisa keluar. Hal itu tentu menimbulkan rasa sakit yang hebat

SUMBER.
»»  Baca Selengkapnya...